Another Fine-Day with Tata (Ada apa di Pasar Besar Malang ?)

Mei 17, 2018

FYI ! aku tuh semacam rada alergi sama yang namanya udara pagi. Alasan paling mendasar selain karena dinginnya yang bikin hidung mampet dan pasti bersin bersin adalah mata dan jiwa ini yang seakan ogah banget bersatu menikmati pagi. Dengan kata lain I am exactly not a morning person. Apalagi buat hunting foto dan jalan jalan manjaah di jam 6 pagi. It's a BIG NO NO! Ajaib sih ini, kalau bukan karena si krucil tata kayaknya kejadian langka ini sangat tidak mungkin terjadi. Maka dari itu, wajib nih diabadikan di blog. Sekedar info aja, aku sama tata udah temenan dari SMA. Bukan temen sih, lebih tepatnya mantan musuh haha. Karena kita sering beda pendapat, prinsip dan pemikiran dalam satu organisasi *tsaah alhasil sering agak bersitegang (tau lah ya yang emosi siapa hihi). Tapi seiring berjalannya waktu, justru aku nyaman bersahabat dengan kepoloson, keceplas ceplosan dan semua konflik diantara kami. Mungkin itu salah satu alasan kami akhirnya klop sampai sekarang. 

Nah balik ke jalan jalan tadi, Minggu pagi yang cerah di Malang. Kalau udah jalan sama tata, idenya memang suka absurd muncul tiba-tiba aja gitu. Jangan harap bakal ada planning itinerary tuh kita mau kemana, spontan uhuy aja nih senyeplosnya. So, kita memutuskan buat jalan kaki muter muter di sekitaran lingkungan pasar besar. Ternyata, surprisingly jalan-jalan pagi tuh enak juga, lebih gak kerasa capeknya padahal pas itu kami jalan kakinya cukup jauh, mungkin karena sejuk, nyantai sambil foto-foto. Buat yang hobi fotografi, kawasan pasar besar malang menurutku sih bisa banget jadi salah satu referensi tempat. Oh ya mau sedikit cerita tentang Pasar Besar Malang. Dulu, pasar ini mulai beroperasi atau dipake berdagang mulai 1919, makannya kalau kamu kesini bakal masih bisa nemuin bangunan-bangunan yang berbau kompeni dan jadul. Pada era itu, pasar ini lebih dikenal dengan Pasar Pecinan, karena memang mayoritas pedagangnya adalah orang China atau Tionghoa. Menurut cerita eyang putri, waktu beliau masih gadis ting ting nih, pasar besar tuh belum seluas dan sepadat sekarang. Dari pasar yang cuma dipetak-petakin (ini rata-rata buat orang pribumi) ditambah beberapa toko kelontong (biasanya milik etnis tionghoa) disekitarnya. Terdengar menarik untuk dibayangkan Pasar Besar masa itu.

Sejujurnya, selama tinggal di Malang sejak 4 tahun yang lalu, aku tuh termasuk orang yang jarang datang ke tempat wisata, sekalipun Malang dan Batu terkenal sebagai kawasan wisata. Paling ya ke Jatim Park, BNS sama tempat-tempat yang udah biasa banget lah kalau ditanya tentang Malang wisatanya apa. Itupun pasti karena berame-rame. Beruntungnya aku tidak terlalu nyaman untuk datang ke tempat sejenis itu, selain karena mahasiswa kantongnya pendek, tapi ramenya itu lo yang bikin ngap dan males. Jadinya postingan instagram juga mengikuti sejuta umat (sama semua). Nah, berhubung tata ngajaknya di luar dari biasanya, ya hajar sajalah !!!


Kami gak cuma keluar masuk pusat dagang pasar besarnya aja, tapi kami juga keliling ke gang-gang kecil pemukiman warga di sekitaran pasar besar yang justru banyak spot menarik disana. Buat aku sih menyenangkan karena suasananya yang guyub (maklum  atmosfir semacam itu sudah tergolong langka bahkan cenderung mungkin sudah tidak ada di kota apalagi yang tinggal di area perumahan). Rata-rata bentuk rumahnya hampir serupa. Unik, mini-mini tapi asik, ditambah dengan orang-orangnya yang ramah. Kenal gak kenal tetap disenyumin dan di'monggo-in'.


Di tengah-tengah perjalanan, berhubung belum sarapan akhirnya kita mutusin buat cari makan. Karena temanya lagi Malang banget nih, awalnya kepikiran buat makan di Warung Lama Hj. Ridwan, lokasinya ada di dalam pasar besar. Warung itu sudah ada dari tahun 1928 atau berarti sejak pasar besar masih belum dikelola jadi gedung seperti sekarang. Rupanya karena terlalu pagi, pas kita datang kesana eh ibunya bahkan masih baru aja masak. Jadi gagal deh -_-  Tapi buat kalian yang emang punya kesempatan datang agak lebih siang (sekitar jam 9), masakan Hj. Ridwan patut dicoba. Aku sendiri sudah pernah dan emang I approve to recommend tempat itu. Belum beruntung dengan masakan Hj. Ridwan, jangan sedih, masih berhubungan dengan kuliner authentic  Malang, kita pindah haluan ke Orem orem. Personally yang aku recommend banget sih di area comboran, ada selambu ijo tuanya gitu. Nanti kapan kapan kalau kesana aku infoin tempatna ya.  Tapi karena emang rezekinya lagi gak hoki pas itu, mau gak mau kita cari alternatif lain makan di pinggiran jalan aja. Tenang, yang ini juga gak kalah enak.


Orem orem itu salah satu makanan khas Malang yang gak banyak anak jaman now tau. Makannya pake ketupat yang segede gaban gitu (tapi dipotong-potong kok dan gak sesemua muanya disajikan), disiram kuah santan yang light lalu pake topping tempe sama tauge. Condiment tambahannya bisa pilih mau tempe goreng biasa atau mendol (tempe dihancurin terus dikasih bumbu dan dikepal). Ini enak dan ngenyangin banget.
Gak jauh dari tempat jual orem orem tadi ada wisata baru yang lumayan happening , karena si krucil penasaran ada apa aja di sana ya kita lanjut. Namanya kampung warna warni. Jadi ceritanya kampung ini dulu tuh kurang terawat dan terperhatikan, letaknya juga berdekatan dengan sungai brantas. Sampai suatu hari ada sekumpulan mahasiswa dari salah satu Univ Malang yang sedang kkn dan berniat buat ngerubah tempat itu jadi tempat yang lebih sehat. Tercetuslah ide buat mewarnai kampung Jodipan ini, dengan harapan warganya bakal sayang kalau mau ngotorin lingkungannya lagi. Hebatnya aksi tersebut berkelanjutan panjang, bahkan bisa menjadikan kampung Jodipan sebagai tempat wisata dan menghasilkan bagi warga sekitar. Kalau berniat kesana gak perlu pusing tiket masuk, karena cuma dengan 2.000 rupiah kamu udah bisa puas puasin foto.


Suka gak terima kalau jalan-jalan cuma segitu gitu aja. Meskipun panas matahari sudah menyingsing bin menyongsong tepat di atas kepala, tetep aja kalau udah denger museum rasanya pengen hayuk dah. Buat kali ini, kami mengunjungi museum yang belum lama ini baru saja dibuka, Museum Musik. Tiket masuknya 5.000 rupiah. To be honest, penataannya belum terlalu rapi dan tempatnya juga gak terlalu luas. Tapi buat kamu yang suka sama musik jadul, tempat ini bisa jadi salah satu pilihan. Musik dari segala macanegara juga ada.  Aku ga terlalu into dan mengerti betul dengan perkembangan dan sejarah musik, tapi disini koleksinya tergolong cukup banyak. Mulai dari yang pake piringan hitam sampai CD pun tersedia. Musiknya juga bisa kamu dengerin langsung disana sambil duduk santai. 


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe