Sore di Sam Poo Kong

April 18, 2022

Agaknya lumayan ironi ya, ternyata postingan terakhir di blog aku tuh Desember 2020. Udah lama banget ga upload, terakhir upload galau pula :') Setahun lebih kemana neng hehe Kalau bisa diilustrasikan kayak ruangan nih, kira kira blog ini kondisinya udah penuh debu, sawang bergelantungan sama jaring laba-laba dimana-mana *lebay deng. Saking lamanya ga nulis, kok berasa agak kikuk ya sama pattern tulisan sendiri. Bingung gitu mulai ceritanya darimana. Tapi oke deh kita coba mulai lagi aja ya 

Dalam judul menghabiskan minggu sore menanti waktu berbuka (kebetulan lagi bulan Ramadhan), sebagai orang yang paling ga bisa diem di rumah, tiba tiba randomly kepikiran buat jalan-jalan ke Sam Poo Kong Semarang. Sebenernya, udah lumayan lama sih penasaran sama Klenteng tertua dan terbesar di Semarang ini. Dari awal tinggal di Semarang tahun 2019, aku udah masukin Sam Poo Kong sebagai salah satu destinasi yang pengen banget didatengin, tapi entahlah kenapa baru bisa terlaksana. Mungkin karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah (aku di Semarang atas dan Sam Poo Kong nun jauh di Semarang bawah) ditambah kehidupan percuanan duniawi yang lumayan heboh selama beberapa tahun belakangan, jadi baru berksempatannya sekarang.  It was my very first time buat berkunjung ke klenteng so  I have no clues at all selain liat liat aja. Ada apa aja di dalamnya, mau ngapain, apa apa yang boleh dan gaboleh dilakuin jujurly gak ada pandangan sama sekali.

Untuk masuk ke klenteng Sam Poo Kong dibagi jadi 2 kali pembayaran tiket sesuai dengan area yang mau didatengin. Kalau kita mau sekedar jalan jalan di area luar yang sifatnya lebih umum, kita cukup bayar tiket Rp 15,000 (weekend). Tapi kalau berminat lebih tau detail ke area persembahyangan, harus beli tiket tambahan senilai Rp 20,000 (ada loket terpisah di dalamnya). Sedihnya karena sudah terlalu sore, jadi ga kebagian tour guide buat nemenin keliling klenteng biar bisa lebih informatif. 

Memasuki area depan klenteng, terdapat 3 miniatur baju prajurit kekaisaran China yang bisa banget buat spot foto-foto dengan latar belakang bangunan Klenteng. Selain itu, ada juga panggung yang sepertinya diperuntukkan buat acara di hari-hari besar seperti perayaan Imlek dan semacamnya. Masih dari plataran depan Klenteng, ada juga Patung Zheng He (atau yang terkenal juga sebagai Cheng Ho) dan cerita singkat perjalanan sang Laksamana. Ga cuma sebagai tempat sembahyang untuk masyarakat Thionghoa, Sam Poo Kong juga dibangun untuk mengenang napak tilas sang Laksamana dalam menjalankan misi perdamaian dan menyebarkan ajaran kebaikan di nusantara.

Dari area ini, sebenernya kita sudah bisa lihat bagaimana bangunan dan prosesi sembahyangnya, tapi aku lebih tertarik buat masuk dan lihat langsung. Sebelum masuk ke area sembahyang, aku memastikan betul ke penjaga setempat apakah orang umum boleh memasuki tempat tersebut dan aturan aturan apa yang harus diperhatikan. Karena memang tempat untuk sembahyang, maka baiknya kita sebagai pengunjung menghormati betul segala aturannya dan wajib menjaga kesopanan. Beralih ke area dalam / persembahyangan, suasananya  lebih khidmat, teduh dan ornamen bangunan bernuansa thionghoa terasa kental sekali.
Salah satu kesan paling menyenangkan dari tempat ini adalah padu padan warna yang mencolok khas Thionghoa, membawa nuansa seperti bukan lagi di Semarang nih hehe. Di area persembahyangan, ada 3 tempat besar yang sama sama bisa digunakan untuk sembahyang. Menurut biokhong di sana, yang membedakan satu tempat persembahyangan dengan lainnya ada pada skala berdoa dan peruntukannya. Kalau di tempat yang pertama lebih untuk sembahyang sendiri. Kemudian tempat persembahyangan kedua, terdapat ruangan yang lebih khusuk di area belakang dan memang khusus hanya orang yang berniat sembahyang yang boleh masuk. Terlihat dari luar sih, ruangannya memang lebih deep gitu ya untuk berdoa. Selain itu, ada juga relief perjalanan sang Laksamana dalam misi perdamaian melalui perdagangan selama berada di Nusantara sepanjang dinding luar ruangan tempat berdoa tadi. Dikedua tempat persembahyangan tersebut, banyak lampion yang digantung beserta harapan dan siapa pendoanya. Katanya dipercaya bisa membawa keberkahan sesuai dengan doa yang dipanjatkan pada leluhur dan Tuhannya. Sedangkan di tempat persembahyangan ketiga, area belakang, menurut saya justru yang lebih khidmat. 

Tempat persembahyangan ketiga ini lokasinya lebih masuk ke dalam area besar klenteng, tapi justru disinilah intinya menurutku. Kata biokhong disana, tempat ini merupakan bekas pantai / dermaga terakhir kapal Laksamana Zheng He berlabuh, makannya ada miniatur kapal juga di seberang tempat persembahyangannya. Makannya ada jangkar terakhir yang bisa dibilang di "keramatkan" dan dianggap leluhur. Disebutnya Kyai Jangkar


Oh iya, katanya di tempat yang ini, kita bisa minta untuk diramal atau dibaca tentang hidupnya gitu, tapi ga ke semua orang si bapak juru doa mau melakukannya. Ada kekawatiran jika hasilnya tidak baik, justru membuat orang yang 'dibaca' lebih pesimis dan ga semangat menjalani hidup setelahnya. Dan apakah aku termasuk salah satu yang beruntung karena justru didatangi beliaunya langsung ? Semoga memang begitu :)

Dari awal aku emang clueless dan hati-hati banget terutama pas mau ambil foto, karena ga ngerti betul bagaimana tata aturan yang boleh dan ga boleh kan, akhirnya aku memutuskan buat duduk duduk santai aja dibawah pohon sambil nge-edit foto foto yang tadi dijepret. Seolah ada medium yang turut serta menyampaikan keresahan hati sore itu, tiba tiba seorang bapak yang kalau ku taksir usianya mungkin sekitar 70an menghampiri dan bertanya "Lagi tidak tenang ya hatinya ? Mau ikut sembahyang ?" aku bertanya balik, "Apa boleh siapapun sembahyang ? Saya muslim. Saya tidak tahu bagaimana aturan dan caranya". Bapak meyakinkan bahwa diniatkannya tetap pada Allah SWT, semata mata pertolongan dari Nya tanpa berniat meragukan ke Esa an -Nya sedikitpun. "Laksamana Zheng He seorang muslim, jadi ajarannya inshaAllah sesuai dengan ajaran-Nya", ujar si Bapak yang akhirnya mengiyakan ajakan si Bapak.


Selesai sembahyang, si Bapak berbagi nasihat banyak hal. Tentang ikhlas, penerimaan takdir, dan " percaya bahwa ketika jalan hidup ini dipasrahkan, maka ketenangan yang akan kita dapatkan". Yah bukan main, seperti dibelai lembut lewat kata-kata. Yang bukan lagi cuma terenyuh, melainkan banjir tumpah ruah sudah air matanya.  Seakan mengerti bahwa cemas ini butuh teman. Sayangnya, aku ga sempat mengabadikan proses beliau berdoa atau bahkan menanyakan namanya. Semoga kalau kalian berkesempatan berkunjung ke Sam Poo Kong jadi salah satu yang akan beruntung bertemu dengan beliaunya dan mendapat nasihat yang sama baiknya :)
 

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe